Rumah Ibu Fatmawati Soekarno

Menelusuri sejarah Kota Bengkulu terasa kurang jika tidak melangkahkan kaki ke rumah Ibu Negara pertama Indonesia. Rumah yang terletak di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan ini berada tak jauh dari rumah pengasingan Ir.Soekarno. Berdasarkan cerita Marwan Amanadin (67), penjaga rumah ini, tahun 1943 Ibu Fatmawati menikah dengan Ir. Soekarno.

Dari tangan perempuan kelahiran Bengkulu, 5 Februari 1923, putri pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah itu, BBendera Pusaka Sang Saka Merah Putih hadir menjadi simbol kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 silam. Bendera yang dijahitnya dikibarkan untuk pertamakali usai Ir. Soekarno membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dirumahnya, Jalan Pegangsaan Timur (Kini bernama Jalan Proklamasi) Nomor 56, Jakarta.

Dari pernikahannya dengan Ir. Soekarno, Ibu Fatmawati melahirkan Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra. Beliau meninggal pada 14 Mei 1980 di Malaysia dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

Rumah kediaman Ibu Fatmawati ini terbuat dari kayu bercat cokelat dan terlihat sangat sederhana. Berbentuk panggung seperti rumah jaman dulu di kawasan Bengkulu, patung setengah badan Ibu Fatmawati menyambut di halaman.

Dihiasi bendera merah putih, di halaman yang berukuran tidak terlalu besar itu berdiri sebuah panggung. “Menjelang 17 Agustus ada banyak kegiatan yang dilaksanakan di sini. Salah satunya acara bertajuk Merajut Nusantara. Di acara ini, para pengunjung dapat menjahit duplikat bendera pusaka di sini,” ungkap Marwan, yang masih terhitung sepupu dengan almarhumah Ibu Fatmawati.

Berdiri di beranda, menghadap pintu masuk rumah berlantai kayu ini, pengunjung dapat melihat langsung ke bagian belakang. Tidak banyak ruangan di rumah ini, “Kamar tidur pun hanya dua. Karena Ibu Fatwamati merupakan anak semata wayang,

Di salah satu ruangan, terdapat mesin jahit berwarna merah yang terlihat usang termakan usia. Dari keterangan yang diberikan Marwan, mesin jahit inilah yang digunakan Ibu Fatmawati untuk menjahit bendera pusaka di Jakarta. Mesin jahit inilah yang menjadi saksi bisu sejarah Indonesia. Bagaimana ketika itu dengan tangannya, Ibu Fatmawati menggunakan mesin jahit ini untuk menyatukan dua kain berwarna merah dan putih. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan almarhumah, berkutat menyempurnakan bentuk bendera. Dengan semangat kebangsaan dan jiwa patriot yang tinggi, lewat karyanya, beliau mengantar negeri ini menuju kemerdekaan.

Hingga saat ini, kebanggaan warga Bengkulu terhadap Ibu Fatmawati tidak pernah pupus. Bahkan. demi menghormati namanya, 14 November 2001 silam, Bandar Udara di Bengkulu yang awalnya bernama Padang Kemiling berganti nama menjadi Bandar Udara Fatmawati.

Yukk belajar sejarah dimulai dari Rumah penjahit Bendera Pusaka Merah Putih Indonesia.

 

More

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.