Benteng Marlborough

Sejarah singkat

Sir Francis Drake merupakan orang Inggris pertama yang melalui wilayah Indonesia tepatnya melewati Selat Sunda,ketika ia melakukan pelayaran keliling dunia pada akhir tahun 1570-an.hubungan resmi antara bangsa Indonesia dengan bangsa Inggrispertama kali dilakukan pada tahun 1601,saat Ratu Elizabeth I dari Inggris mengirimkan utusanya kepada Sultan Aceh. Surat menyurat antara keduanya masih tersimpan di perpustakaan Nasional Inggris di London. Pada masa tersebut dunia,khususnya bangsa eropa,sangat membutuhkan rempah-rempah dan ini membawa negara-negara kuatdari eropa berlayar ke Hindia,suatu jajaran kepulauan yang kini di kenal sebagai Indonesia. Perebutan daerah kekuasaan dan wilayah perdagangan saling silih berganti antara negara-negara eropa yang ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia sampai akhirnya Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah ini. Bangsa Inggris di paksa meninggalkan bandar perdagangan lada utama di Banten pada tahun 1684.

Pada tanggal 12 juli 1685 salah seorang wakil dan East India Company, suatu perusahan dagang Inggris di Hindia waktu itu, yang bernama Ralph Ord berhasil menguasai Bengkulu. Dia berhasil membuat suatu perjanjian dengan masyarakat setempat agar mereka menyediakan lada bagi perusahan ini dan sebagai imbalan pihak inggris akan membantu melindungi daerah dari usahan penjajahan bangsa Belanda di Bengkulu. Bengkulu dianggap sebagai daerah yang strategis untuk mengawasi rute perdagangan melalui Selat Sunda. Kedudukan strategis ini tidak pernah mendapat perhatian mengingat kebanyakan pelayaran bangsa Eropa memilih rute melalui Selat Malaka, yang merupakan rute langsung pelayaran dari India ke China yang merupakan lalu lintas pelayaran utama pada masa itu.

Bengkulu  menjadi pusat operasi perusahan Inggris di Sumatera. Sejumlah pos perdagangan yang lebih kecil di bentuk,selain untuk berdagang juga untuk mengawasi daerah pendudukan Inggris di Bengkulu. Wilayah ini membentang dari pesisir barat Sumatera mulai dari Tapanuli, Natal dan Muko-Muko sampai Manna dan Krui selatan dekat perbatasan Lampung Barat kini.

Kehadiran Sir Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur terakhir pada tahun 1818-1821, saat wilayah ini diserahkan kepada Belanda membuat daerah Bengkulu menjadi terkenal. Dari Bengkulu inilah pada tahun 1819 Rafles belayar dan mendirikan koloni baru Inggris di Singapura. Pada saat itu ia di tentang oleh perusahan di London dan Madras namun di kemudian hari nilai historis dan strategis tindakan ini ternyata sangat menguntungkan Inggris. Belajar dari pengalaman pihak Belanda, bangsa Inggris merasa perlu mengupayakan perlindungan meliter dan membangun perbentengan demi keamanan. Kawasan perbentengan dibangun pada sebidang tanah yang berada di antar laut dan sungai Bencoolen(kini sungai serut) dan di namakan York Fort, dengan diperkuat 2 kompi tentara Infantri dan pekerja yang direkrut dari London,Inggris. Kelemahan benteng ini adalah letaknya dekat dengan sungai serta rawa-rawa mangrove sehingga timbul berbagai penyakit. Banyak prajurit dari pegawai sipil di benteng ini meninggal karena sakit.

Akhirnya benteng ini mulai terbengkalai karena tidak ada tenaga ahli untuk memperbaiki benteng sampai Joseph Collet ditunjuk menjadi deputi Gubernur pada tahun 1712. Ia minta izin untuk membongkar perbentengan baru di atas karang yang lokasi berjarak2 mil dari York Fort,perbentengan baru ini harus cukup luas untuk  menyediakan sarana akomodasi dan fasilitas bagi para pegawai yang bertugas di benteng ini beserta pembantu-pembantu mereka, termasuk garnisun tentara.

Joseph Collet menamakan benteng ini”MARLBOROUGH” untuk menghormati Jhon Churchill,Duke of Marlborough pertama yang menjadi pahlawan perang Inggris di eropa. Pembangunan benteng ini berlangsung sekitar 4 tahun. Tahap pertama selesai pada tahun 1718. Bangunan awal ini berbeda dari bangunan yang terlihat sekarang. Perbentengan merupakan kawasan bangunan berbentuk segi 4 dengan atap di bentuk sedemikian rupa untuk mendukung artileri dalam mempertahankan benteng. Tidak lama setelah pembangunan benteng ini,deputi gubernur beserta rombongannya meninggalkan benteng ini menyusul terjadinya pertentangan yang cukup besar antara pihak Inggris dengan penguasa setempat. Pihak Inggris menduga benteng ini akan diserang. Baru pada tahun 1723 East India Company menunjuk seorang Deputi Gubernur dan staf baru untuk kembali menempati benteng ini. Kembalinya para pedagang ini di sertai oleh 2 kompi tentara infantri dan detasemen artileri. Selama 35 tahun berikutnya berbagi perbaikan dilaksanakan namun beberapa kali terjadi kemunduran akibat pengawasan dan pengaturan yang tidak efektif oleh beberapa Deputi Gubernur yang berkuasa. Masalah utama yang dihadapi  oleh pasukan Inggris di Bengkulu pada masa tersebut adalah jarak yang terlalu jauh dengan pimpinan yang berpusat di London. Permintaan perlengkapan mesin dan lain – lain harus melalui pimpinan di London. Pengiriman pemohonan ini dilakukan dengan kapal pertama yang berlayar ke London yang membutuhkan waktu sampai delapan bulan. Tidaklah mengherankan bahwa pesediaan beberapa perlengkapan penting di benteng ini sering berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Beberapa perlengkapan utama seperti mesiu dibeli dari kapal-kapal dagang yang singgah di Bengkulu.

Pada tahun 1759 perbentengan ini dilengkapi dengan parit kecil yang masih dapat dilihat sampai saat ini. Parit ini dalamnya sekitar 6 kaki (1,8m)dan lebar 12 kaki (-3,6m). Tanah galian ini diletakan antara dinding benteng yang lama dengan dinding yang baru sebelah luarnya yang khusus dibangun dengan tujuan untuk meredam serangan proyektil meriam. Penambahan ini membuat benteng terlihat seperti sekarang dengan pelataran meriam ynag diperluas besertatembok bentengnya.

Tidak lama setelah pembangunan di atas, suatu skuadron laut Perancis dibawah pimpinan Comte Charles Henri d’Estaing mendarat di Bengkulu. Kurangnya amunisi dan perbekalan hanya memberikan satu pilihan terbaik bagi pihak Inggris yaitu menyerah. Kota dan benteng diserahkan kepada Perancis tanpa pertumpahan darah. Perancis memanfaatkan benteng ini untuk memenjarakan pasukan Inggris. Dalam delapan bulan berikutnya banyak pasukan Perancis meninggal karena berbagai penyakit  sehingga akhirnya komandan Perancis memutuskan untuk meninggalkan Bengkulu dan menyerahkannya kembali kepada pasukan Inggris, yang sudah jauh berkurang kekuatanya akibat berbagai penyakit yang juga ikut melanda mereka.

Wilayah East India Company di pesisir barat berubah statusnya menjadi presidensi dengan Bengkulu sebagai ibu kotanya pada tahun 1760. Sebelum berita ini sampai di Bengkulu pihak garnisun sudah terlebih dahulu menyerah kepada pihak Perancis. Sepeninggalan Perancis penguasa tertinggi di Bengkulu ditingkatkan menjadi Gubernur. Roger Cartermenjadi Gubernur Inggris yang pertama. Kekuatan garnisun ditambah dengan tentara (sepoi)dari Presidensi Madras di India dan kadang-kadang juga diperkuat oleh pasukan dari bugis, Sulawesi.

Pendudukan Bengkulu terus berlanjut dengan status sebagai Presidensi sampai tahun 1785. Pada saat itu jelas terlihat bahwa perdagangan lada tidak lagi memberikan keuntungan yang besar bagi perusahan Inggris tersebut. Status penduduk pesisir barat diubah menjadi bagian dari Presidensi Bengalia, India. Perubahan ini dilanjutkan dengan penarikan sepoi dari Madras kembali ke India. Sehingga garnisun hanya di perkuat tentara dari Presidensi Bengali ditambah beberapa pasukan artileri dari eropa. Sepanjang masa pendudukan oleh tentara (1685-1825) komando kebanyakan di pegang oleh perwira eropa dari East India Company dan hanya beberapa kali orang setempat diberikan kehormatan ini.

Sepoi dari Bengali tetep ditempatkan di Bengkulu dan sepanjang daerah penduduk pesisir barat sampai seluruh pos perdagangan Inggris di sepanjang pantai barat Sumatera ini diserahkan ke tangan Belanda sesuai perjanjian Anglo-Dutch pada tahun 1825. Pelaksaanya baru dilakukan pada tahun 1825.

Raffles tiba di Bengkulu pada tahun 1818 dan segera menerapkan gaya kepemimpinannya yang sederhana seperti diperlihatkan ketika ia menjabat Letnan Gubernur Jawa pada tahun 1811-1816. Menjelang berakhirnya perang Napoleon di Eropa, Jawa berhasil diambil alih dari Perancis dalam suatu pertempuran merebutkan menara Benteng Cornelis yang kini sudah berubah menjadi stasiun Manggarai.

Hubungan yang baik dengan pemimpin setempat sangat membantu Raffles mengatur daerah penduduk yang membantu menurunkan biaya operasionalgarnisun yang berat. Ia juga berhasil menurunkan tingkat kesiagaan Benteng Marlborough mengingat ancaman dari bangsa Eropa pun tidak ada.

Berdasarkan laporan yang ada, setelah penyerahan benteng ini kepada pihak Belanda,benteng ini diduduki oleh kolonial Belanda . Benteng ini tidak diperbesar atau diperbaiki kecuali pada pertengahan abad 19 ketika dilakukan pemasangan meriam pada keempat menara benteng tersebut.

Belanda terus menguasai benteng Marlborough sampai Perang Dunia ke dua, lalu menyerahkannya kepada Jepang yang berhasil menguasai Sumatera. Setelah penyeraahan Jepang kepada sekutu pada tahun 1945,benteng ini kembali dikuasai oleh Belanda dan baru setelah Indonesia merdeka, benteng Marlborough dimanfaatkan oleh tentara Indonesia dan Polisi sampai akhirnya dikosongkan pada akhir 1970-an. Keadaan benteng tidak berubah tetap seperti sekarang ini,hanya sedikit pemugaran pada akhir tahun 1980-an.

Dari Puncak Benteng Marlborough
Dari Puncak Benteng Marlborough

BENTENG

Luasnya benteng ini segera terlihat setelah kita memasuki benteng melalui gerbang selatan yang dahulu dikenal sebagai “The Great Gate”.Benteng Marlborough merupakan benteng terbesar diluar India yang pernah dibangun oleh East India Company.

Bangunan yang berbatasan dengan gerbang selatan merupakan bagian asli dari Benteng yang dibangun pada tahun 1714 – 1718, Perubahan pada bagian ini hanya dilakukan sebelah dalam saja.

Tiga ruang sebelah kiri yang kini berisi benda pameran yang memperlihatkan bagian tahapan sejarah dan pendirian benteng ini termasuk perbaikannya,dahulu dipergunakan sebagai kediaman para perwira.Pada tahun 1783 ruang ini dirubah menjadi gudang senjata dan tempat penyimpanan amunisi senjata ringan.

Tiga ruang dikanan pintu masuk dahulu digunakan sebagai ruang jaga utama. Ruang-ruang yang lebih besar menjadi tempat akomodasi komandan jaga serta anggota regu jaga yang sedang bertugas keliling benteng.Dua ruangan yang dalam digunakan sebagai sel tahanan militer bila diperlukan. Pada waktu itu tiga ruangan ini dilengkapi dengan pintu  kayu yang kokoh.

Ruang – ruang yang tersisa pada sayap selatan sesudah daerah jaga merupakan ruang perbekalan dengan pintu yang menghadap lapangan upacara,selama pembangunan kembali tahun 1783 serta motivasi pada tahun 1794 ruang ini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan mesium semula berada dimenara utama namun bangunan ini terkena petir pada tahun 1782, yang meledakan 400 ton mesiu yang menimbulkan kerusakan parah dan baru diperbaiki ketika dilakukan pembangunan kembali pada tahun 1783.

Jika kita melihat ke bagian dalam Benteng dari gerbang selatan terlihat jalan setapak yang berada ditengah benteng menuju gerbang utara mengikuti garis jalan lama yang melalui benteng ini.

Disebelah kanan terlihat sayap timur yang merupakan satu lagi bangunan yang tersisa dari bangunan asli yang didirikan pada tahun 1714 – 1718. Bagian ini dahulunya terdiri dari bagian delapan ruang tinggal pegawai sipil East India Company. Tempat ini berubah menjadi barak saat dilakukan pembangunan kembali pada tahun 1783 yang dilengkapi dengan pintu kecil yang memungkinkan keluar gerbang tanpa membuka gerbang lama Benteng ini. Pintu ini tertutup rapat dan hanya akan dipegunakan dalam keadaan darurat.Daerah ini kemudian diubah menjadi ruang penyimpanan dan tidak diubah sampai saat ini.

Disebelah utara tepat didepan gerbang selatan adalah gerbang utama yang baru dengan area kantor yang modern (setelah perang). Ditempat ini dahulu berdiri sayap utara yang terdiri dari dua ruang yang merupakan ruang keluarga bagi seorang pejabat sipil senior yang sudah menikah dan empat ruang tinggal bagi para perwira yang masih bujangan atau tidak disertai keluarganya  maupun bagi perwira militer Eropa. Dua ruang lagi disediakan sebagai tempat tidur jaga.

Pada tahun 1741 sayap utara di bangun tingkat untuk menambah fasilitas akomodasi serta di tambah ruang jaga dan kantor diatas pintu gerbang utara.

Disebelah barat seluruh bangunan sudah hilang termasuk tembok benteng barat. Dulu disini berdiri dua buah gudang dan kediaman gubernur di depannya.

Kedua gudang dan kediaman gubernur tersebut kemudian di bongkar pada tahun 1817 didirikan kembali saat perbaikan benteng.

Setelah menjelajahi lapangan utama nampak satu pintu masuk di bawah menara Barat Laut yang menuju ketempat penyimpanan harta. Tepat di sebelah ruang ini terdapat suatu ruang kecil yang dulu di pergunakan oleh penjaga ruang harta. Tidak lama setelah kedatangannya di Bengkulu pada tahun 1818 Thomas Sir Stamford Raffles melakukan infeksi rutin ke daerah-daerah pesisir barat lainnya. Pada saat itu bendahara kedua Mr. H.R. Lewis memperoleh surat keterangan sakit dan diizinkan meninggalkan Bengkulu dengan kapal layar. Ketika kembali dari perjalanan Raffles menemukan bahwa 161.348 dolar Spanyol lenyap diruang harta, ia tidak punya pilihan lain kecuali melaporkan kepada pimpinan di London bahwa Lewis melarikan diri dengan membawa harta tersebut,  namun harta tersebut tidak penah ditemukan.

Lapangan utama benteng ini terdiri dari lapangan upacara serta beberapa taman yang berpagar. Lapangan upacara ini dahulu dipergunakan untuk apel pagi, latihan keterampilan, serta latihan upacara penyambutan tamu. Dilapangan ini juga para tentara berbaris mendengarkan keputusan pengadilan dan menjadi saksi eksekusi militer.  Hukuman bagi tindakan desersi di Bengkulu adalah hukuman mati, ditembak atau digantung.

Dekat sayap timur terdapat sumur,sumur ini merupakan sumber air utama benteng ini.Sumur pertama dapat dilihat di daerah reruntuhan menara barat. Salah seorang Sersan eropa yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan diperkuat oleh keputusan deputi gubernur dihukum dengan penurunan pangkat dan ditugasi menyediakan air bagi seluruh garnisun selama 5 tahun, suatu hukuman yang sangat berat melihat iklim Bengkulu bagi orang eropa. Tidak diketahui, apakah ia berhasil menyelesaikan masalah hukumannya. Menyusuri tembok benteng dari menara tenggara terlihat suatu bidang miring dari susunan bata yang dibuat untuk membantu menempatkan meriam pada posisi tembak diatas tembok. Pada beberapa bagian tembok masih terlihat cincin besi yang digunakan untuk mengamankan meriam bila sedang di pindahkan. Bila dirasa perlu saat memindahkan senjata berat tersebut diikat ke cincin besi tersebut. Untuk menahan beban meriam tersebut sehingga orang-orang dapat beristirahat. Susunan bata ini masih asli. Sebagai tambahan untuk memindahkan posisi senjata berat pihak belanda menambah jalur rel untuk meriam pada pertengahan abad ke 19 hal ini dapat dilihat di ujung pelataran  senjata di setiap menara. Senjata mereka dipasang pada kereta yang sedikit di tinggikan dengan roda belakang dipasang pada rel tunggal yang memungkinkan merubah kedudukan kesamping dengan mudah dan cepat.

Hal menarik lain untuk diamati adalah jika kita keluar dari bagian dalam benteng melalui gerbang selatan. Di bandingkan dengan ilustrasi benteng ini yang dibuat antara tahun 1794-1798 yang memperlihatkan menara pengamatan (Look out Tower) dari menara selatan, menara ini digunakan untuk memantau pulau tikus (Rat Island) yang menjadi pos Sinyal. Pos dipulau tikus ini akan mengirimkan tanda ke Benteng secepatnya apabila ada kapal yang memasuki perairan Bengkulu, menara pengamatan ini rusak dan akhirnya hancur karena gempa Bumi sehingga harus di robohkan. Dari gerbang selatan dapat ditemukan jembatan kayu yang melintasi parit kering (yang digali pada tahun 1759) kebagian tembok benteng yang melengkung yang dibangun pada tahun 1783 ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan yang disusun untuk memberikan tembakan perlindungan serta melindungi gerbang menara dan sisinya.

Di daerah lengkung benteng ini di dekat gerbang luar terdapat tiga buah makam disebalah kiri, jika kita menghadap ke gerbang.  Residen Thomas Parr yang dibunuh pada tanggal 23 Desember 1807 dimakankan di sini. Pada masa itu dikawatirkan bahwa bila ia di makamkan di kuburan inggris, makamnya akan dibongkar tidak lama setelah pembunuhannya. Di sebelahnya makam pegawainya, Charles Murray yang berusahan menyelamatkan Parr namun terluka dan meninggal tidak lama kemudian. Makam ketiga ditenggarai merupakan makam Robert Hamilton, komandan pasukan Inggris yang terbunuh di Bengkulu.

Setelah melewati gerbang terlihat empat buah batu nisan besar. Dua diantaranya berhasil ditemukan dipemakaman Inggris yang asli di daerah pasar Bengkulu. Ini adalah tugu peringatan bagi Thomas shaw yang meninggal pada tahun 1704 dan deputi gubernur RichardWatts yang meninggal pada tahun 1705. Dua prasasti lainnya diambil di pemakaman Inggris yang kedua. Salah satu diantaranya adalah untuk menghormati Kapten Thomas Cuney. Salah satu serorang perwira yang terlibat pendirian benteng Marlbrough.Ia meninggal pada tanggal 17 Februari 1737.Prasasti yang keempat diperuntukan bagi Henry Stirling pegawai Sipil East India Company yang menjadi  anggota Majelis di Bengkulu. Ia meninggal pada tanggal 1 april 1744 ketika baru berusia 25 tahun.

Bila meninggalkan  benteng melalui gerbang ini pengunjung akan melewati jembatan. Jembatan ini dahulu terbuat dari kayu yang dibuat ketika bagian lengkung benteng dibentuk pada tahun 1783.Kegiatan lain yang cukup menarik adalah menyusuri keliling benteng sepanjang jalan setapak mengikuti jalur tunggal yang dibuat ketika dilakukan penggalian parit kering ilustrasi dari tahun 1794-1798 memperlihatkan bahwa tanggul ini dilengkapi dengan rintangan kayu yang sengaja disusun untuk melindungi benteng bagian luar saat melakukan pembangunannya. Sambil berjalanan melalui tanggul ini mungkin kita dapat merenungkan kembali kehidupan masa lalu dalam benteng ini saat para tentara dan pengawal bertugas untuk East India Company. Banyak di antara mereka meninggal saat bertugas bukan karena pertempuran karena mengingat benteng ini tidak pernah diserang (hanya menyerah tanpa syarat kepada Perancis) tetapi karena penyakit. Lebih dari 1000 orang Kristen baik militer maupun sipil, meninggal saat bertugas di Bengkulu dan mereka di makamkan di pemakaman Inggris di Kelurahan Jitra. Semua anggota militer yang mendarat di Bengkulu pada 100 tahun pertama merupakan sukarelawan yang hanya memiliki sedikit gambaran mengenai apa yang akan mereka hadapi dalam tugas. Dalam periode seratus tahun pertama mereka ditempatkan dipesisir barat Sumatera ini menerima pembayaran rendah dibandingkan dengan rekan mereka yang ditempatkan di India.Keadaan ini menjadi lebih parah akibat kondisi gizi yang buruk,tempat tinggal yang kurang memadai serta pakaian yang tidak sesuai lagi.Tidaklah mengherankan hal ini menimbulkan ketidakpuasan dan baru pada tahun 1785 ketika pasukan dari Bengali bertugas di Bengkulu keadaan ini baru diperbaiki.

 

 

More

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Message Us on WhatsApp